Showing posts with label Fotografi. Show all posts
Showing posts with label Fotografi. Show all posts

Saturday, August 25, 2012

Nikon vs. Canon : Mana Yang Lebih Baik?

Menurut opini saya, mempertanyakan lebih bagus mana antara Nikon atau Canon sama saja seperti mempertanyakan lebih bagus mana antara Toyota atau Honda; BMW atau Mercedes Benz. Mereka sama-sama perusahaan dunia yang sama bagusnya dan sama kuatnya. Memilih antara Nikon atau Canon amat tergantung dengan selera dan lingkungan dari orang tersebut.
Kalau Nikon dan Canon tidak sama-sama bagus dan kuat, tentunya salah satu dari mereka akan bangkrut. Sudah banyak perusahaan kamera yang bangkrut dan lalu dibeli oleh perusahaan lain. Salah satu contohnya adalah Minolta yang dibeli oleh Konica, dengan membentuk Konica-Minolta. Setelah merger tersebut, Konica-Minolta memutuskan untuk menjual bisnis DSLR mereka kepada Sony, yang mana kemudian Sony mengeluarkan Sony α (Alpha) yang teknologinya berasal dari Minolta. sumber

Kodak merupakan ‘korban’ terakhir dari perkembangan teknologi fotografi digital. Padahal Kodak-lah yang pertama kali menemukan fotografi-digital, kamera digital pertama dan kamera D-SLR komersil pertama. sumber

Strategi Bisnis

Perbedaan paling mencolok dari kedua perusahaan ini adalah strategi korporat mereka. Nikon sejak awal hanya memfokuskan diri pada Teknologi Presisi dan Teknologi Alat Elektronik yang berhubungan dengan Lensa (Precision Technologies and Opto-electronic Technologies). Oleh karenanya produk-produk keluaran Nikon selalu berbasiskan lensa (Kamera, Teropong, Mikroskop, Alat pengukur jarak, Lensa kaca mata, dan lain-lain). sumber

Sedangkan Canon sejak tahun 1960an sudah merencakan untuk melakukan diversivikasi produk mereka dengan mulai memproduksi kalkulator 10-key elektronik pertama di Dunia pada tahun 1964. Sejak itu, selain memiliki bisnis berbasis kamera dan lensa, Canon mulai memproduksi mesin photocopy (tahun 1970 menjadi mesin copier kertas pertama di Jepang), laser printer (tahun 1979), ink-jet printer (1985) dan large-format ink-jet printer (2006). sumber

Dari kedua strategi korporat tersebut, Nikon dan Canon bersaing secara langsung di bidang kamera (slr dan point-n-shoot), dan teknologi presisi (alat pembuat semi-konduktor). Dalam bidang ini, kedua perusahaan ini masing-masing memiliki teknologi yang sama baiknya. Kedua perusahaan ini juga memiliki pengikut yang sama fanatiknya. Sehingga tidak bisa dikatakan yang satu lebih baik dibandingkan yang lain.
Kalau dilihat dari sisi finansialnya, Canon mempunyai total aset sebesar 3.983.820 juta yen (2010), sedangkan Nikon sebesar 829.909 juta yen (2011/Q3). Canon sekitar 4,8 kali lebih besar daripada Nikon. Hal ini tentu dikarenakan bisnis Canon jauh lebih beragam dibandingkan Nikon. sumber 1, sumber 2

Lensa

Lensa-lensanya mereka juga pasti sama bagusnya, sama tajamnya. Dari hasil riset teknologi lensa yang mereka lakukan, mereka dapat membuat lensa yang dapat memfokuskan sinar yang dipakai untuk ‘mencetak’ chip. Nikon dan Canon sama-sama memiliki divisi yang menjual alat pembuat chip. Alat tersebut bernama stepper, dan salah satu langkah untuk membuat chip adalah mencetak pola garis-garis yang kemudian menjadi jalannya sinyal listrik dalam rangkaian chip tersebut. Lebar dari garis ini hanya 38 nm (1 000 000 nano-meter = 1 mili-meter). Kalau lensa mereka dapat menfokuskan sinar yang dipakai dalam proses pembuatan chip, mereka tentu mudah saja membuat lensa yang kita pakai untuk motret model atau landscape.

Jadi, kalau mereka dapat membuat lensa yang dapat memfokuskan garis hingga 38 nm, kenapa mereka masih membuat lensa yang kelihatannya hasilnya ‘biasa-biasa’ saja? Kenapa mereka tidak membuat semua lensa mereka tajam dan kelas nomer 1? Jawabnya sederhana: Strategi Marketing dan Quality Control.
Mereka mungkin memiliki teknologinya. Akan tetapi untuk memproduksi lensa premium dibutuhkan quality control yang ketat. Hal ini membuat biaya produksi lensa-lensa yang bagus menjadi mahal. Tentunya mahalnya biaya produksi kemudian akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga jual lensa yang mahal pula. Kalau bahasa inggrisnya, ono rego ono rupo (baca: ada harga ada barang).
Penentuan harga jual inilah yang mendikte kualitas dari sebuah lensa. Ujung-ujungnya strategi marketing dari setiap merk kamera.
Jadi, lensa mereka sama bagusnya.

Teknologi

Keduanya saling susul-menyusul dari segi teknologi. Rasanya, jarang terjadi salah satu merk terlalu ketinggalan teknologi dari merk satunya lagi. Kalau toh tertinggal, merk yang tertinggal teknologinya tersebut selalu dapat menyusul ketinggalannya tersebut.
Keduanya saling mencontek dan meniru teknologi yang dilakukan pesaingnya. Sebagai contoh, teknologi auto-fokus pertama dikembangkan oleh Leica yang mempresentasikan Correfot sebagai kamera SLR pertama yang mempunyai teknologi auto-focus. Sedangkan Konica mencatatkan sejarah sebagai perusahaan yang pertama kali memproduksi kamera poket yang mempunya kemampuan auto-focus. Teknologi auto-focus ini kemudian dicontek oleh Nikon dan Canon dengan strategi yang berbeda. Nikon mengadopsi teknologi yang dilakukan oleh Minolta (Minolta Maxxum 7000 sebagai kamera SLR pertama yang terintegrasi secara utuh dalam body kamera, yaitu Auto-focus, motor penggerak lensa dan motor penggerak film), sedangkan Canon mengadopsi teknologi EOS mereka dengan meletakkan motor penggerak lensa di lensa mereka. Strategi ini lalu kemudian dicontek oleh Nikon dengan mengeluarkan sistem AF-S.
Kejar-kejaran dan saling mencontek di antara produsen kamera seperti ini tidak saja terjadi di teknologi Auto-Focus yang saya ceritakan di atas, akan tetapi pada hampir semua teknologi yang ada di kamera sekarang ini. Multi-segmen metering, Image Stabilizer, Anti-Dispersion Lens, Through The Lens Metering, TTL Flash metering, dan banyak lagi teknologi yang diciptakan oleh salah satu produsen kamera, lalu dicontek teknologinya oleh produsen yang lain.
—————————————
Jadi, mana yang lebih baik diantara keduanya? Menurut saya, tidak ada. Masing-masing memiliki kelebihan (dan kekurangan) di setiap market level yang ada. Terkadang Nikon memiliki keuntungan strategis dalam penerapan teknologi mereka dibanding Canon. Akan tetapi, biasanya beberapa saat kemudian Canon mengeluarkan teknologi yang sama baiknya, atau mungkin lebih baik daripada Nikon. Kejar-mengejar teknologi ini sudah terjadi bertahun-tahun, yang membuat kedua perusahaan ini mempunyai pengikut yang hampir sama besarnya.
Lalu, bagaimana kita memilih antara Nikon atau Canon? Jawabnya mudah, Anda lebih nyaman dengan merk apa. Apabila memungkinkan, cobalah kedua merk ini melalui teman-teman Anda atau tempat sewa kamera yang mungkin ada di kota Anda. Amati hasil fotonya menggunakan jenis lensa yang sama (kualitas lensa lebih menentukan kualitas gambar Anda ketimbang body kamera).
Anda mungkin juga perlu membaca tulisan saya mengenai Pedoman Membeli Kamera D-SLR
Ketimbang terlalu lama membaca, mungkin ada baiknya Anda ikut kursus kami. Jadi Anda bisa langsung bertanya kepada kami dan mendapatkan jawaban yang tuntas. Kebanyakan kelasnya hanya membutuhkan 1 kali week-end saja. Terima kasih.



sumber

Saturday, June 30, 2012

Kiat Agar Kamera Bebas Jamur


DSLR Camera (Ist.)


Jakarta - Bagaimana agar kamera yang saya miliki terhindar dari jamur?

(Dian Setyani, 18 tahun)

Jawaban:

Benar, sebaiknya pemilik kamera harus mencegah hinggapnya jamur pada kamera atau lensa. Adapun tips-tips untuk menghindari jamur adalah: 

1. Pastikan bodi kamera dan lensa selalu dalam kondisi bersih dan kering.

2. Simpan di dalam lemari khusus yang ada pengatur kelembabannya. Bisa juga pemilik piranti memakai kotak plastik kedap udara.

3. Tambahkan silica gel di dalam lemari atau kotak penyimpan.




sumber

Thursday, January 19, 2012

First Canon EOS 60D Hands On

Tuesday, December 13, 2011

Dasar Fotografi

Kalau kemarin kita sudah mengenal camera DSLR dan bagaimana cara bekerjanya, kali ini kita akan belajar beberapa pengetahuan dasar photography dengan menggunakan camera DSLR. Menfoto dengan camera DSLR tidaklah jauh beda dengan menfoto dengan camera compact/ point and shoot camera. Ibarat mobil yang memiliki transmission automatic, compact camera / point and shoot memilikki setting cahaya yang sudah diatur otomatis. Sedangkan camera DSLR memilikki setting cahaya dan lainnya yang bisa kita atur secara manual maupun otomatis.

Kalau sudah ada yang auto, kenapa harus pusing dengan setting secara manual?
Kalau anda mengharapkan foto yang anda jepret itu jelas, warnanya bagus, pixelnya tinggi, ya, fungsi auto sudah cukup kok,, kenapa pusing2… Tetapi kalau anda pengen memberikan sentuhan yang berbeda, membuat foto kita kelihatan beda dari yang lain, membuat foto menjadi sesuatu tidak bisa terlihat dengan mata manusia, maka anda harus melakukan setting secara manual,

Pernah complain dengan foto yang anda ambil itu blur(tidak jelas)? Warnanya tidak memuaskan? Lightingnya kelihatan aneh? Ada beberapa situasi, fungsi automation setting tidak bisa memberikan hasil yang terbaik, kalau anda menguasi teknik mengatur sendiri pengcahayaan, well, problem solved..


Three Main Gateway

Kalau kita belajar matematika, kita akan memulai dengan 4 dasar yaitu, +,-,x,/, di photography, kita memulai dengan 3 dasar mengatur cahaya yang masuk ke sensor ataupun lebih dikenal dengan three gateway of light, three methodology, dll. Ketiga hal itu adalah Shutter Speed, Aperture, dan ISO Speed (Sensitivitas Sensor terhadap cahaya)

Shutter Speed adalah kecepatan tirai penutup sensor. Semakin lambat tirainya bergerak, semakin banyak cahaya yang masuk ke sensor,. Shutter speed yang tinggi bisa menangkap object yang bergerak cepat dengan jelas, misalnya mobil yang bergerak, sedangkan shutter speed yang lambat, bisa merekam gambar dengan lambat, sedangkan benda yang bergerak bisa kelihatan motion-nya . Untuk pemahaman cahaya yang masuk melewati kecepatan shutter, kita bisa memakai analogi jendela dan pintu jendela. Ketika kita menekan tombol shutter, pintu jendela ini akan membuka, dan menutup kembali. Ketika pintu jendelanya dibuka secara lambat, cahaya yang masuk melewati kedalam ruangan semakin banyak daripada pintu yang dibuka dengan kecepatan tinggi.



Aperture adalah lubang cahaya yang masuk ke sensor. Ukuran aperture ditentukan oleh sebuah alat yang bernama diaphragm. Cahaya yang masuk masuk dari lens, bergerak melewati aperture sebelum masuk ke sensor. Fungsi sebenarnya ukuran besar kecilnya aperture adalah untuk mengatur kedalaman ketajaman gambar. Aperture yang kecil mempunyai ketajaman yang lebih dalam sedangkan aperture yang besar memiliki kedalaman yang tidak dalam, sehingga object yang berada diluar dari kedalamanan akan kelihatan kabur. Bagaikan mainan laser, semakin kecil lubang cahaya laser, maka semakin jauh laser bisa memantulkan cahaya, dan semakin lebar lubang cahaya, maka semakin tidak jauh laser bisa memantulkan cahayanya. Kita bisa mengunakan kembali analogi jendela dan pintu jendela diatas untuk pemahaman pengaturan cahaya lewat aperture. Kalau kecepatan pintu jendela membuka dan menutup kembali itu adalah shutter speed, maka jendela itu sendiri adalah aperture karena cahaya memasuki sensor lewat jendela itu. Semakin lebarnya jendela maka otomatis cahaya yang masuk lebih banyak dan begitu juga sebaliknya.



Satu hal yang akan selalu membingungkan pemula adalah besar aperture bukan ditentukan besar f number,, tapi sebaliknya. misalnya f 2.8 adalah aperture besar sedangkan f22 adalah aperture kecil..

Aperture Besar (f/5.6)


Aperture Kecil (f32)


Kombinasi antara shutter speed dan aperture adalah kunci untuk menentukan sebuah gambar itu memliki exposure yang tepat. Ketika berada di tempat yang terang seperti outdoor, kita bisa menggunakan shutter speed yang tinggi dengan aperture yang tinggi untuk mengurangi cahaya yang berlebihan masuk kedalam sensor supaya hasil dari foto tidak terlalu terang. Sedangkan ketika berada ditempat tidak terlalu terang seperti indoor, kita bisa menggunakan Aperture yang besar dan Shutter speed yang lambat. Namun shutter speed yang lambat sangat sensitive dengan pergerakan camera. Kamera yang bergerak saat shutter speed lambat berjalan akan menyebabkan gambar yang kabur. Di situasi seperti ini, penggunaan Tripod (alat tempat camera berdiri) atau kecepatan ISO bisa menjadi solusi.

ISO Speed adalah sensitivitas sensor terhadap cahaya. Penggunaan ISO yang tinggi bisa membantu sensor menrespon cahaya dengan lebih cepat, namun semakin tinggi ISO, akan menimbulkan noise. Noise membuat gambar kelihatan tidak jernih,.

three main gateway

Dengan kombinasi tiga pintu masuk cahaya, kita bisa mengatur settingan cahaya sesuai situasi dan kebutuhan kita dimana fungsi Auto kadang tidak bisa melakukannya dengan benar. Kalau kita melihat object lewat viewfinder yang merupakan refleksi dari cermin, bagaimana kita mengetahui sebuah settingan itu over exposure atau kekurangan cahaya. Biasanya di Viewfinder ada meteran cahaya untuk kita mengatur exposure yang tepat. Begitu juga kalau melakukan live view dari lcd secara langsung,, ada sebuah meter kecil terletak bagian bawah lcd atau bagian atas.



Masih banyak settingan dan teknik, kita akan membahas lebih lanjut disambungan topik ini.

Gambar diambil dari Wikipedia, www.imaging-resource.com, Enjoy! Discover the real joy of photography

source : http://www.bagansiapiapi.net/id/topic.php?id=2501